![]() |
| Merak Ngibing, Batik Priangan |
Batik yang berkembang jadi sisi dari kebudayaan Jawa, nyatanya bukan sekedar menebar dibagian tengah serta timur pulau Jawa, tapi juga jadi sisi dari kebudayaan Sunda dibagian barat pulau Jawa.
Batik yang berkembang di lokasi Priangan – yakni daerah kebudayaan Sunda di Jawa Barat yang mencakup lokasi Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi, serta Bogor – memanglah sedikit berlainan dibanding dengan motif-motif batik di Jawa.
Walau sebagian alur seperti kawung, rereng (Jawa : lereng), parang juga diketemukan dalam batik Priangan, sebagian alur batik begitu ciri khas hanya diketemukan di daerah Priangan ini. Umumnya motif-motif batik Priangan di inspirasi dari motif flora serta fauna, yang melukiskan keindahan serta kemolekan alam lokasi Priangan. Seperti legenda kuno yang menceritakan kalau lokasi Priangan terwujud saat beberapa dewa tersenyum serta mencurahkan semuanya barokah dn restunya. Satu diantara motif ciri khas Priangan yaitu “merak ngibing” atau “the dancing peacock” – motif yang seringkali diketemukan di daerah seperti Garut serta Tasikmalaya. Motif ini digambarkan dengan sepasang burung merak yang sama-sama berhadap-hadapan dengan ekor yang mengembang seperti tengah menari.
Kesan dinamis, indah, serta sedikit genit dengan beberapa warna cerah yang umum dipakai pada motif merak ngibing ini melambangkan keindahan alam Priangan. Sedang “ngibing” yang berarti “menari/joget/dansa” melukiskan keceriaan yang rukun serta damai dalam budaya orang-orang Priangan.
Merak sendiri mewakili deskripsi dunia atas, dunia dewa-dewa, yang melambangkan kesucian serta kebahagiaan. Seperti asal kata Priangan, yakni “Parahyangan”, kalau Priangan yaitu tempat bersemayamnya pada roh leluhur serta dewa (hyang). Seperti yang dipercaya dalam kebudayaan Sunda kuno kalau beberapa dewa-dewa bersemayam ditempat yang tinggi, yakni di deretan pegunungan yang membentang dibagian tengah Jawa Barat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar