Selasa, 20 Maret 2018

Menjaga Batik agar Tak Jadi Tren Sesaat

Menjaga Batik agar Tak Jadi Tren Sesaat


Sempatkah Anda buka lemari baju serta mengkalkulasi jumlah batik di situ? atau sebatas duduk di warung kopi serta mengkalkulasi jumlah orang kenakan pakaian batik dimuka Anda? 

Sejak pernyataan pada batik jadi budaya tidak benda warisan manusia Indonesia oleh UNESCO setahun lantas, dibarengi penetapan 2 Oktober jadi Hari Batik Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketertarikan orang-orang Indonesia untuk kenakan batik melonjak. 

Bila 10 th. lantas mungkin saja cuma orang-tua yang kenakan batik-itu juga jadi kain panjang atau baju resmi-maka saat ini remaja serta kelompok muda umur produktif juga semakin nyaman melakukan aktivitas berbusanakan batik. 
Batik tidak sekali lagi keluar dalam acara-acara resmi yang menjemukan, namun juga dalam beberapa style kasual nan chic serta fresh. 

Batik berevolusi dalam semua bentuk baju bersamaan dengan imajinasi serta kreatifitas perancang baju terkenal Indonesia. 

Terkecuali jejeran rancangan adibusana yang mewah, batik juga tampak dalam beragam desain enjoy yang tambah lebih simpel dengan harga tambah lebih murah. 

Dari Presiden, kelompok profesional, artis populer, anak-anak sekolah, sampai tukang becak di pojok jalan mengenakannya karna batik tidak mengetahui status sosial. 

Tetapi, euforia itu nampaknya tidak cukup untuk seseorang Edward Hutabarat. Perancang baju nasional terkenal ini menginginkan mengajak orang-orang Indonesia bukan sekedar mengetahui lembar untuk lembar batik dengan fisik, namun juga ketahui narasi dibalik pembuatan batik. 

" Seorang bisa jadi mempunyai beberapa puluh koleksi baju batik serta dapat mengatakan ketidaksamaan tiap-tiap coraknya dengan fasih. Tetapi, tidak tiap-tiap orang ketahui 'backstage' (cerita dibalik) tiap-tiap type batik, " kata Edward dalam peluncuran kampanye Cintaku Pada Batik Takkan Sempat Sirna, Jumat di Museum Nasional, Jakarta. 
Tampak dalam balutan baju batik lengan pendek bercorak biru dengan basic putih, pria kelahiran Tarutung, Sumut, itu mengungkap kekhawatirannya jika batik cuma jadi trend sebentar yang hilang demikian bergeraknya sang saat. 
Oleh karenanya, ia menyatakan pentingnya membuat kesadaran pada orang-orang Indonesia supaya batik bukan sekedar jadi trend sebentar. " Supaya jati diri serta kecintaan batik di kehidupan moderen ini tidak memudar, " tuturnya. 
Orang-orang Indonesia, tuturnya, mengemban tanggung jawab besar untuk melestarikan batik jadi warisan budaya bangsa. 

Karenanya, dia menyarankan tiap-tiap orang ketahui " backstage " tiap-tiap type batik di Indonesia, minimum batik sebagai koleksinya. 

" Janganlah cuma batiknya, namun contoh kuliner dari daerah itu, bagaimana kehidupan orang-orangnya, atau kesenian yang beda, " kata pria yang mengakui sudah lakukan perjalanan ke Cirebon, Pekalongan, Yogya, Solo, serta beberapa kota penghasil batik yang lain. 

Dengan bangga dia tunjukkan beberapa koleksi photo sebagai bukti sisi dari perjalanannya temukan akar dari tiap-tiap lembar kain batik sebagai keunikan beberapa daerah yang membuatnya. 
" Batik tidak sekedar hanya bentuk fisik baju ciri khas Indonesia, namun ada sistem panjang, cita rasa, serta estetika yang dibalut dengan perasaan dalam membuatnya, " tuturnya. 

Edward yang sore itu menghadirkan sebagian koleksi paling barunya menyatakan kalau tiap-tiap goresan canting dalam sistem pembuatan batik melibatkan emosi serta memesankan banyak segi kehidupan lingkungan sekelilingnya. 

Kebiasaan Indonesia 

Kapan persisnya orang Indonesia mengetahui batik serta muasal kata batik, hal tersebut jadi perbincangan sampai saat ini meskipun beberapa pihak mengatakan kalau batik sudah jadi sisi kehidupan rakyat Indonesia mulai sejak masa Majapahit. 

Tetapi, satu photo keluarga RA Kartini yang berumur lebih dari 100 th. lantas tunjukkan kalau lebih dari 100 th. lantas orang-orang Indonesia, Jawa terutama, sudah begitu akrab dengan batik. 

Di Indonesia, kebiasaan membatik di turunkan dari generasi ke generasi, dari ibu pada anaknya, dari nenek pada cucunya. 

Oleh karenanya, pada jaman dulu satu asal motif bisa dikenali dari keluarga spesifik serta tunjukkan status seorang. 

Menurut Edward, paling tidak butuh 20-25 th. hingga seorang dapat disadari jadi seniman batik ulung. 
" Perlu 20-25 th. agar bisa menggambar semuanya type motif batik karna batik lebih dari sebatas menggambar diatas kain. Ini yaitu pekerjaan yang dikerjakan dengan hati, " tuturnya. 

Beberapa kota di Pulau Jawa sampai Madura di kenal mempunyai corak kain batik yang begitu ciri khas. 

Batik-batik dari pesisir-Pekalongan, Cirebon, serta Tuban-memiliki corak serta warna yang lebih bermacam karna hubungan warga setempat dengan beberapa pendatang. 

Dampak asing itu memperkaya kreasi batik, beberapa hingga di masa penjajahan Eropa keluar motif bunga tulip serta kereta kuda dalam batik. 

Disamping itu, batik-batik dari Yogya serta Solo relatif ambil warna tanah dengan motif-motif rumit serta kecil. 

Edward lantas sharing panduan merawat kain atau baju batik supaya warnanya tetaplah cemerlang, tidak sirna, serta tahan lama. 
Ia menjelaskan, untuk membersihkan selembar kain batik koleksinya yang berumur sekitaran 50-an th. diperlukan perlakuan-perlakuan spesial. 

" Saya memakai air panas serta mempersiapkan empat ember air untuk membersihkan satu lembar kain batik kuno, " tuturnya, didampingi Senior Manager Product Development PT KAO Indonesia Seiji Kikuta. 

Pria kelahiran 31 Agustus itu menyebutkan satu ember diisi air panas, sedang tiga ember yang beda diisi air dingin. 

" Sabun pencuci dicampurkan di air panas, lantas kain di rendam. Lalu, kain itu dipindahkan ke tiga ember yang beda bertukaran, " tuturnya. 

Lalu, kata dia, kain batik ditumpuk dengan handuk kering serta dijemur dengan memakai peralon (pipa plastik) atau bambu. 

Mengenai Kikuta yang sore itu kenakan batik lengan panjang bewarna merah mengakui kalau KAO mengerti kesusahan serta kecemasan customer Indonesia waktu membersihkan batik kesayangannya. 

Hal tersebut yang memberikan inspirasi perusahaan global yang sudah lebih dari 25 th. ada di Indonesia itu untuk tawarkan inovasi baru : pencucian moderen dan praktis serta lembut untuk melindungi warna batik tidak sirna. 

" Kami menginginkan memberi satu inovasi spesial untuk orang-orang Indonesia, " tuturnya dalam bhs Indonesia serta bhs Inggris. 

Peluncuran kampanye Cinta Pada Batik Takkan Sempat Sirna itu ditutup peragaan baju 17 karya Edward yang keseluruhannya adalah baju wanita. 

Perancang yang sudah menekuni dunia baju sepanjang 30 th. itu kesempatan ini memakai batik bercorak mega mendung serta pagi-sore dalam beragam baju kasual, dari mulai jas pendek, rok bergaya babydoll, jaket panjang, gaun berpotongan lebar dibagian bawah, serta gaun-gaun bermodel kemben. 

Lewat peragaan ini, Edward nampaknya menginginkan berikan teladan mengenai bagaimana kita semestinya memberlakukan batik supaya budaya bangsa yang sudah disadari di kancah internasional ini tidak jadi trend sebentar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar