Selasa, 20 Maret 2018

Batik Priangan Nan Elok

Batik Priangan Nan Elok

Batik Priangan telah ada mulai sejak 50-100 th. lantas, tetapi karna kondisi ekonomi, batik yang sempat berjaya mulai sejak taghun 1960-1980-an serta laku di Malaysia saat itu, alami kemunduran. Bahkan juga th. 1997 aktivitas membatik Priangan, terutama batik Ciamis, berhenti keseluruhan karna kebangkrutan pengrajinnya. 

Walau sebenarnya, sebelumnya krisis moneter th. 1997, batik Ciamis dapat berkompetisi diantara dominasi kebiasaan batik Solo, batik Yogyakarta ataupun batik Pekalongan. Batik Priangan dinilai ciri khas, karna macam hiasnya yang kaya. Beragam momen histori, kondisi alam, serta tata nilai sosial-budaya jadi sumber ide beberapa pembatik Priangan. 

Sekian tersingkap dalam peluncuran buku The Dancing Peacock, Colours and Motifs of Priangan Batik oleh Didit Pradito, Herman Juiceuf, serta Saftiyaningsih Ken Atik (Penerbit PT Gramedia, Jakarta) di Bentara Budaya Jakarta. Ke-3 penulis buku itu juga tampak pada acara talk show. 

Batik Priangan yaitu arti yang dipakai untuk memberi jati diri pada beragam batikan yang dibuat serta berjalan di Priangan, daerah di Jawa Barat serta Banten yang penduduknya berbahasa serta berbudaya Sunda. 

Meliputi diantaranya lokasi kota serta kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, serta Ciamis. Garut, Ciamis, serta Tasikmalaya adalah beberapa daerah dimana sisa kehadiran kebiasaan seni kriya batik Priangan masik terlacak. 

Didit Pradito menyebutkan, batik Priangan dalam sistem perubahan serta penebarannya berlangsung sistem sama-sama memengaruhi diantara batik beragam daerah. Akhirnya bisa tampak dalam ciri-khas penggambaran motif yang memiliki kandungan arti simbolik, yang disebut stilasi dari beragam bentuk yang datang dari alam, flora, fauna, ataupun bermacam momen. 

" Keseluruhannya, kesan yang didapat waktu lihat selembar batik Priangan yaitu kesan cantik-molek, bahkan juga sedikit genit, yang mungkin saja sesuai dengan citra umum orang Sunda, " tuturnya. 

Saftiyaningsih Ken Atik menyebutkan, pada saat jayanya, Ciamis mempunyai serta hasilkan kain batik dengan kwalitas baik. Masa keemasan batik Ciamis berjalan pada masa th. 1960-an sampai awal 1980-an. Bahkan juga, th. 1939 telah ada Koperasi Rukun Batik, yang mengumpulkan 421 pengrajin dari 1. 200 pembatik. 

Kesederhanaan corak batik Ciamis tidak terlepas dari histori keberadaannya yang banyak di pengaruhi daerah beda, seperti macam hias pesisiran dari Indramayu serta Cirebon. " Diluar itu, dampak batik nonpesisiran, seperti dari Solo serta Yogyakarta juga ikut andil dalam membuat ciri-khas warna serta komposisi motif batik Ciamis-an yang seringkali juga dimaksud batik Sarian, " tuturnya. 

Herman Juiceuf yang mengulas batik Garut menyebutkan, pembuatan batik catat Garut tidak sehalus batik Solo atau batik Yogyakarta, yang lebih detil membuat isen-isen batiknya. 

" Walau bagaimanapun, ketrampilan beberapa pembatik dalam menangkap bermacam momen dengan menggabungkan macam hias serta warna lembut ciri khas Garut-an jadikan batik Garut terlihat unik serta indah, " katanya. 

Kekhasan serta keindahan batik Priangan, dipamerkan sampai tanggal 30 Mei yang akan datang di Bentara Budaya Jakarta. Ada sekitaran 100 helai kain batik Priangan punya beberapa kolektor di Jakarta serta Bandung, Museum Tekstil Jakarta, dan punya pembatiknya yang masih tetap tersisa di Garut, Ciamis, serta Tasikmalaya. 

Beberapa adalah kain batik yang tegrolong antik, dengan warna-warni serta motif-motif yang tak akan di buat saat ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar