Selasa, 20 Maret 2018

Batik Priangan: Tradisi dan Sejarah yang Berlanjut

Batik Priangan: Tradisi dan Sejarah yang Berlanjut

Memangnya di Tasik ada batik? " Pertanyaan itu sering disampaikan pengunjung pameran pada perajin batik dari Tasikmalaya. Demikian juga pada batik ciamis serta garut, yang mempunyai kebiasaan panjang dalam olah seni batik di tanah Priangan. 

Karena meredupnya pamor batik ciri khas dari Tatar Sunda itu, baik karna berubahnya selera orang-orang ataupun karena serbuan kain tekstil bercorak batik, sepanjang sebagian dekade kehadiran batik priangan seperti dilupakan. Jadi seni kerajinan yang tumbuh di beberapa daerah pedalaman Jawa Barat, terutama di Priangan Timur, batik priangan bahkan juga sempat diberitakan juga akan punah. 

Walau demikian, saat ini pertanyaan bernada menuntut sekalian kecemasan punahnya satu diantara warisan budaya bangsa itu tidak butuh sekali lagi sangat dicemaskan. Sekurang-kurangnya, sekarang ini ada sekitaran 30 perusahaan batik di Cipedes, Kota Tasikmalaya, serta 10 perusahaan batik di Sukapura, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, tengah gencar menancapkan bendera bisnisnya. Demikian juga di Garut serta Ciamis. 

Peminat batik yang ada di Jakarta, bahkan juga bisa mencermati dari dekat macam batik dari Priangan itu dalam satu pameran spesial di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan, Jakarta.
Budaya Agraris 
Sebenarnya, Tasikmalaya mempunyai kebiasaan serta histori batik yang kuat. Masa keemasan batik tasik sekitar th. 1950-1960-an, berbarengan dengan kejayaan Koperasi Partner Batik yang dibangun th. 1939. Waktu itu, kata Cacu yang memiliki batik Agnesa, satu perusahaan mempunyai pekerja batik cap minimum 50 orang. 

" Dahulu, kain batik masih tetap digunakan untuk sarung. Bila di Karawang panen raya, umpamanya, entrepreneur batik dari Tasik membawa berapakah juga batik kesana tentu laris. Batik digunakan ibu-ibu keseharian, termasuk juga pergi ke sawah, " papar Cacu. 

Koperasi Partner Batik sendiri keluar jadi jawaban dari kegelisahan beberapa entrepreneur batik di Tasikmalaya pada perdagangan kain mori serta obat pewarna yang dikuasai entrepreneur keturunan Tionghoa. Koperasi ini, di th. 1960-an, jadi produsen kain mori paling besar se-Indonesia serta mempunyai beberapa ribu karyawan. 

Salah seseorang saksi histori batik tasik yaitu Latifah. Wanita yang saat ini berumur 85 th. itu belajar buat batik catat yang halus mulai sejak umur belasan th.. Saat itu, ia di ajarkan segera oleh ibunya. " Mereka yang dahulu belajar menulis batik bersama dengan saya telah banyak yang wafat, " ungkap wanita yang umum di panggil Mak Ipoh serta sampai saat ini masih tetap membatik. 

Bukan sekedar di Tasikmalaya, kebiasaan serta histori batik juga berada di Garut. Menurut Darpan Ariawinangun, penulis buku Sekitar Garut, rutinitas membatik memanglah telah lama berada di Tatar Sunda. Dalam naskah Sunda kuno, Siksa Kanda Ngkaresian, sempat disinggung motif-motif batik yang ada. 

Bahkan juga, akhir era ke-19, KF Holle, juragan perkebunan teh Siaga, di Cikajang, Garut, pernah buka industri batik di perkebunannya. Mengutip satu buku perjalanan wisata untuk turis-turis asing berjudul Garoet en Omstreken, Darpan memberikan, pada 1920-an batik garutan telah jadikan oleh-oleh ciri khas yang sering dibawa orang sepulang dari Garut. 

Sekian waktu lalu, saat kaintekstil bercorak batik (printing) ramai, batik tasik tidak dapat berkompetisi. Meskin masih tetap berproduksi dalam jumlah terbatas, supaya tetaplah bertahan, pemasaran batik tasik ada yang diserahkan pada entrepreneur diluar daerah hingga orang lainlah yang miliki nama. 

Beberapa besar orang-orang Priangan Timur bekerja di bagian pertanian. Bila tidak mengerjakan sawah, mereka miliki kebun atau ikan di kolam yang perlu dijaga. Kesibukan sehari-harinya ini yang turut merubah corak serta batik dari lokasi Priangan Timur. Apa yang mereka saksikan di sawah, ladang, atau kolam lalu dituangkan jadi motif diatas kain mori. Tidaklah heran jika motif batik dari Priangan didominasi oleh flora serta fauna. 

Pada batik tasik, umpamanya, ada awi ngarambat (bambu merambat), merak ngibing (merak menari), laba-laba, burung keladi, gurami, serta daun talas. Pada batik garutan, terkecuali flora serta fauna, ada pula motif-motif geometrik, seperti belah ketupat. 

Kebiasaan membatik serta budaya agraris ini selanjutnya seperti dua bagian mata uang. Saat tiba panen padi atau musim tanam, beberapa pembatik juga akan ke sawah serta tunda sesaat pekerjaan membatiknya. 

Tingkah laku membatik begini juga, kata Ecin Kuraesin perajin batik dari Sukapura, masih tetap berjalan sampai saat ini. Beberapa pembatik ditempat Ecin mempunyai sawah garapan semasing. Saat musim panen atau tanam tiba, mereka tidak dapat dihalangi tidak untuk pergi ke sawah. Dengan hal tersebut, praktis aktivitas membatik juga dipending sesaat. 

Walau keduanya sama ada di Tasikmalaya, ada ketidaksamaan corak warna pada batik dari Tasik serta batik dari Sukapura. Warna batik sukapura cuma terbatas pada merah marun, putih, hitam, serta gading. Demikian sebaliknya, permainan warna pada batik tasik serta garut relatif lebih berani. Beberapa warna cerah sesuai sama keinginan pasar tidak canggung diaplikasikan. Supriyadi Harmaen dari Dimas Batik memiliki pendapat, warna cerah pada batik tasik seakan cerminan orang-orang Sunda yang periang. 

Perubahan fashion mesti disadari sudah membawa barokah untuk aktor usaha batik priangan. Makin beragamnyapenggunaan kain batik, tidak cuma untuk sarung seperti dahulu kala, dapat tingkatkan keinginan kain atas batik. Penghargaan orang-orang pada warisan kebudayaan bangsa juga akan jadi kunci kelangsungan kebiasaan serta histori batik di Priangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar